NusaPangan membangun identitas digital petani, lahan, dan hasil panen, siapa yang menanam, di lahan mana, dan berapa yang akan panen.
From Farm Data to Indonesia's Food Security
Setiap angka di NusaPangan bersumber dari lembaga resmi.
Bank Indonesia
Badan Pusat Statistik
Kementerian Pertanian
Kementerian ATR/BPN
Badan Pangan Nasional
Kemendikdasmen
Bank Indonesia
Badan Pusat Statistik
Kementerian Pertanian
Kementerian ATR/BPN
Badan Pangan Nasional
KemendikdasmenPetani adalah sumber data, bukan sumber pendapatan. Yang membayar adalah pihak yang membutuhkan kepastian, pembeli institusi dan lembaga yang menanggung risiko.
Rice ID, pencatatan lahan, harga harian, dan akses ke pembeli institusi, tanpa biaya. Setiap panen yang dicatat memperkaya mesin data kami.
Rp 0 · mesin pengumpul dataSPPG, Bulog, dan pembeli besar membayar komisi transaksi serta langganan dashboard pasokan, traceability QR, dan optimasi rute.
Pendapatan berulangBank, asuransi, dan pemerintah daerah membayar untuk profil petani terverifikasi, prediksi panen, dan peta pasokan wilayah.
Inti bisnis · margin tertinggiBukan sekadar konsep, ini aplikasinya, berjalan langsung di halaman ini. 14 layar: daftar, catat lahan, jual ke SPPG, lacak QR, sampai skor kelayakan untuk bank. Silakan klik dan coba.
Industri agritech Indonesia baru menyaksikan runtuhnya beberapa pemain besar. Kami membangun dengan batasan yang jelas sejak awal.
Kami menjual data verifikasi petani ke bank. Bank yang memutuskan dan menanggung risiko. Kami biro data pertanian, bukan pemberi pinjaman.
Tidak ada armada, tidak ada gudang. Data kami mengalir dari hulu ke hilir, operasi fisik tetap milik mitra. Model asset-light menjaga biaya rendah.
Escrow dijalankan melalui mitra penyedia jasa pembayaran berizin, bukan oleh NusaPangan.
Peta Lahan Sawah Dilindungi (LSD) Provinsi Banten menjadi fondasi, petani terverifikasi ditautkan ke dalamnya.
Hari ini baru 3 titik tervalidasi. Setiap musim panen, titik bertambah dan riwayatnya menebal, itulah aset yang tidak bisa disalin dengan membangun aplikasi serupa.
Buka LahanMap penuh →Kesenjangan yang menjadi titik masuk NusaPangan, berdasarkan data resmi 2026.
Kami memilih menguasai satu rantai sampai tuntas, bukan melebar ke banyak komoditas. Varietas premium seperti beras organik justru paling membutuhkan traceability.
Varietas berdasarkan hasil validasi lapangan di Banten dan segmen pengembangan.
Wawancara langsung di Banten, 3 petani dan 1 pengelola SPPG.
Harga sering berubah-ubah. Kami kurang tahu harga sebenarnya di pasar.
Sulit mencari pembeli besar secara langsung. Kami sering bergantung pada pengepul.
Informasi harga kurang transparan dan biaya distribusi tinggi kalau harus menjual sendiri.
Kami belum mengetahui detail beras berasal dari petani mana. Dengan QR Traceability, sangat berguna.
Mengapa NusaPangan ada, dan ke mana kami membawanya.
NusaPangan didirikan dengan satu visi sederhana: membangun Rice Intelligence Infrastructure Indonesia.
Ketahanan pangan dimulai dari memberdayakan orang-orang yang memproduksi pangan kita. Dengan menghubungkan petani langsung ke pembeli institusi, didukung data tepercaya, wawasan berbasis AI, dan infrastruktur digital yang transparan, kami mempersempit kesenjangan informasi, memangkas rantai pasok yang tidak efisien, dan memperluas akses pasar bagi petani.
Lebih dari sekadar menaikkan pendapatan petani, ekosistem beras yang efisien memperkuat makroekonomi Indonesia: biaya transaksi menurun, harga pangan lebih stabil, dan ketahanan pangan nasional menguat.
Kami tidak sekadar mendigitalkan pertanian. Kami membangun infrastruktur data yang memungkinkan keputusan lebih cerdas, pasar lebih adil, dan sistem pangan yang lebih tangguh bagi Indonesia.